Nyala di Ujung Gelap
Karya: Hasikin, S.Pd.I
Di bawah langit yang retak-retak,
kaki telanjang menginjak batu tajam
tidak ada yang menyuruhmu berhenti,
maka kamu pun tidak berhenti.
Tanganmu telah mengenal Lelah
lebih lama dari tidur yang nyenyak,
namun di sela-sela jarimu yang gemetar
masih ada benih yang kamu genggam erat.
Berapa kali kamu jatuh?
Hitunglah lalu lihat kamu masih di sini,
berdiri dengan lutut yang berdarah
dan dada yang tetap mengembang.
Harapan bukan cahaya yang datang dari luar.
Ia adalah bara kecil yang kamu tiup sendiri setiap pagi,
meski angin mencoba memadamkannya,
meski hujan tidak kenal ampun.
Suatu hari dan hari itu sedang berjalan ke arahmu
semua batu tajam itu akan menjadi anak tangga.
Maka berjalanlah.
Teruslah berjalan.
Sebab perjuangan yang sungguh-sungguh tidak pernah berakhir sia-sia
ia berakhir menjadi cerita yang kamu wariskan
kepada mereka yang baru saja mulai takut.
